Google Ads Onboarding & 90-Hari Roadmap: dari Setup ke Scale

Jawaban Singkat

Google Ads e-commerce yang tidak di-setup dengan benar hampir selalu memperlihatkan ROAS yang terlihat bagus di platform tapi tidak ada artinya di Shopify. Ini karena brand exclusion tidak dipasang, tracking menghitung multiple conversions per order, atau PMax menyedot budget untuk retarget existing customers — bukan akuisisi baru. Framework 90-hari ini memastikan semua fondasi dipasang sebelum satu rupiah pun di-scale.

Tiga bulan pertama Google Ads bukan tentang berapa besar spend-nya — tapi tentang apakah trackingnya bisa dipercaya, apakah strukturnya memungkinkan scale tanpa ROAS collapse, dan apakah angka yang terlihat di dashboard benar-benar mencerminkan revenue di backend.


Kenapa Banyak Google Ads Terlihat Work Padahal Tidak

Skenario yang paling sering: brand report ROAS 5x di Google Ads Manager. Tapi saat dicek di Shopify — revenue dari Google Ads hanya setengahnya. Selisih ini biasanya disebabkan oleh tiga masalah yang hampir semua akun baru punya:

1. Tracking menghitung banyak konversi per order. Conversion setting default Google adalah “Count All” — artinya satu customer yang checkout tiga kali (karena error) dihitung tiga konversi. Harus diganti ke “Count One.”

2. Brand traffic bleeding ke cold campaigns. Kalau branded keywords tidak di-exclude dari Standard Shopping atau PMax, campaign kamu akan terus convert branded searches — orang yang sudah mau beli brand kamu — dan mengklaim credit atas konversi itu. ROAS tinggi palsu. Akuisisi cold traffic = nol.

3. PMax bias ke warm audience. PMax secara default akan push spend ke audience yang paling mudah convert: existing customers dan past visitors. Kalau customer list tidak di-exclude, kamu sedang bayar untuk akuisisi yang seharusnya terjadi organik.

Tiga hal ini harus difix di hari pertama — sebelum ada evaluasi performa apapun.


Phase A: Discovery — Pertanyaan Sebelum Pegang Akun

Sebelum menyentuh satu campaign pun, ada pertanyaan bisnis yang harus dijawab dulu. Strategi yang tepat untuk satu brand bisa jadi strategi yang salah untuk brand lain — karena ekonomi bisnisnya berbeda.

Business Economics (wajib dijawab):

Pertanyaan Kenapa Penting
Berapa gross margin produk utama? Margin di bawah 30% = Shopping-first sangat terbatas; CAC tidak ada ruang
Berapa AOV rata-rata? Menentukan berapa CPA maksimal yang masih profitable
Berapa % customer yang repeat purchase dalam 12 bulan? Jika rendah, LTV pendek → CAC harus lebih agresif dijaga
Apa purchase window tipikal? Impulse = pertimbangkan attribution 1-day; considered = butuh 30-day click

Technical State:

  • GMC sudah connect dan approved?
  • Tracking sudah terpasang? (GTM, Shopify pixel, GA4 linked ke Ads?)
  • Ada channel lain yang aktif (Meta, TikTok)? → akan pengaruhi attribution dan incrementality assessment

Phase B: Technical Audit — Urutan Pemeriksaan Hari Pertama

Jalankan pemeriksaan ini secara berurutan — jangan skip satu pun:

1. Billing & Account Health Verifikasi tidak ada suspend atau payment issue. Ini sering diabaikan tapi kalau ada masalah di sini, semua perubahan berikutnya tidak akan jalan.

2. GMC Diagnostics Google Merchant Center → Products → Diagnostics. Lihat disapproval rate. Target: < 5% disapproval rate. Kalau di atas itu, scale impossible karena eligible inventory terlalu kecil.

3. Conversion Tracking Tools → Conversions. Untuk setiap conversion action:

  • Event name sudah benar?
  • Count One (bukan Count All)?
  • Attribution window: 30 day click / 1 day view?
  • Status: Active (bukan “No recent conversions”)?

Ini yang paling kritikal. Semua optimasi smart bidding bergantung pada kualitas sinyal konversi ini.

4. Campaign Inventory List semua campaign aktif: type (PMax/Shopping/Search), spend 30 hari, ROAS platform, status. Ini memberikan baseline untuk evaluasi.

5. Brand Exclusion Check Apakah brand keywords sudah di-exclude dari PMax dan Standard Shopping? Kalau belum, perbaiki ini sebelum langkah lain.

6. Search Terms Review 30 hari terakhir: ada branded terms yang muncul di cold campaigns? Jika ada, tambahkan ke negative keyword list.


90-Day Roadmap: Tiga Fase Menuju Scale

Phase 1: Foundation (Hari 1–30)

Tujuan: Akun bersih, tracking valid, campaign berjalan stabil.

Minggu 1 — Fix Critical:

  • Selesaikan technical audit; fix semua 🔴 critical issues
  • Pasang customer list exclusion di cold campaigns
  • Setup Branded Shopping campaign (selalu on, budget minimal tapi tidak boleh off)
  • Confirm conversion tracking = Count One, 30 day click / 1 day view

Minggu 2 — Struktur Dasar:

  • Launch atau restruktur Standard Shopping: 1 campaign, 2 ad groups (top sellers + everything else)
  • Bidding awal: Maximize Clicks + max CPC guard (belum ada data untuk smart bidding)
  • Fix GMC disapprovals → target kurang dari 5% disapproval rate
  • Pasang brand exclusion di PMax dan Standard Shopping

Minggu 3–4 — Monitor dan Baseline:

  • Review Search Terms Report → tambahkan negative keywords
  • Pull 30-day product report → identifikasi zombie products (produk yang di-serve tapi tidak pernah convert dalam 60+ hari)
  • Dokumentasikan baseline: spend, ROAS platform, ROAS backend, new vs returning customers

Milestone Phase 1:

  • ✅ GMC approval rate > 90%
  • ✅ Tracking verified (Count One, active status)
  • ✅ Brand exclusion aktif di semua cold campaigns
  • ✅ Minimal 30 konversi dalam campaign utama

Phase 2: Optimize (Hari 31–60)

Tujuan: Smart bidding berjalan stabil, produk underperformer sudah di-clean.

Minggu 5–6 — Transisi Smart Bidding:

  • Setelah ada ≥ 30 konversi/30 hari: transisi ke Maximize Conversion Value
  • Jalankan 4-layer product audit: harga → ROAS → CTR → CPC
  • Exclude produk yang tidak profitable (chunk removal maksimal 15–20% inventory sekaligus — jangan langsung exclude semua, algorithma perlu adaptasi)
  • Launch zombie product campaign kalau ada kandidat (produk dengan historical demand tapi tidak dapat spend)

Minggu 7–8 — Monitor Smart Bidding:

  • 2 minggu pertama smart bidding = learning period, jangan ubah apapun
  • Review: apakah spend turun drastic? Kalau ya → kemungkinan TROAS target terlalu tinggi
  • Review: apakah warm audience drift? (lebih dari 30% spend ke existing customers = masalah)
  • Test supplemental feed untuk optimize Shopping titles pada top 20 produk berdasarkan spend

Milestone Phase 2:

  • ✅ Smart bidding aktif dan stabil (tidak ada ROAS swing ekstrim)
  • ✅ Underperforming products excluded atau chunk-removed
  • ✅ ROAS platform ≥ target × 0.8 (backend ≥ target × 0.6)

Phase 3: Scale (Hari 61–90)

Tujuan: Volume tumbuh tanpa ROAS collapse. Identifikasi ceiling dan rencana berikutnya.

Minggu 9–10 — Scale:

  • ROAS stabil selama 2 minggu berturut-turut → naikkan budget 25–50% pada campaign yang profitable
  • Naikkan secara gradual — jangan langsung 2× dalam satu hari
  • Test PMax feed-only campaign untuk top sellers (compare backend revenue vs Standard Shopping — mana yang lebih efisien)
  • Evaluasi: ada budget saturation? (“Limited by budget” dengan ROAS sehat = sinyal kuat naik budget)

Minggu 11–12 — Evaluasi dan Rencana:

  • Present 90-day report ke klien
  • Identifikasi apakah akun mendekati PMax ceiling: ROAS stabil tapi spend tidak bisa naik
  • Kalau sudah ceiling → audit backend (NCAC, LTV, repeat purchase rate) — solusinya ada di bisnis, bukan di settings campaign
  • Rekomendasikan arah 90 hari berikutnya

Milestone Phase 3:

  • ✅ Spend naik 25–50% vs Phase 1 tanpa ROAS collapse
  • ✅ Backend ROAS ≥ target
  • ✅ New customer percentage ≥ 60% dari total orders

Media Plan: Alokasi Budget per Tier

Budget Bulanan Alokasi
Di bawah Rp75 juta 100% Standard Shopping + Branded Shopping (minimal)
Rp75 juta – Rp225 juta Standard Shopping 70%, PMax 25%, Branded 5%
Rp225 juta – Rp750 juta Standard Shopping 60%, PMax 30%, Branded 5%, test lain 5%
Di atas Rp750 juta Tambahkan Search campaign cold + evaluasi YouTube (min Rp6 juta/hari)

Logika alokasi:

  • Standard Shopping mendominasi karena CVR lebih tinggi — user sudah lihat harga dan gambar produk sebelum klik, intent lebih tinggi
  • PMax sebagai supplement, bukan primary campaign (post-2025 algo update, Standard Shopping bisa compete secara langsung)
  • Branded Shopping tujuannya defend, bukan scale — selalu on dengan budget minimal
  • YouTube baru masuk di budget besar karena butuh geolift methodology untuk measure incrementality

Monthly Review: 6 Pertanyaan Wajib

Setiap bulan, sebelum keputusan apapun dibuat:

  1. Backend ROAS masih di atas breakeven? Backend ROAS = Shopify revenue ÷ ad spend. Ini angka yang lebih jujur dari platform ROAS. Kalau backend ROAS sudah di bawah gross margin ÷ revenue, bisnis sudah rugi per konversi.

  2. New customer percentage masih > 60%? Kalau turun → warm audience drift: PMax atau Shopping mulai serve existing customers lebih banyak. Fix: perketat exclusion list dan pastikan customer list ter-sync dari Shopify.

  3. Ada campaign “Limited by budget” dengan ROAS sehat? Ini sinyal paling jelas bahwa ada ruang untuk naik budget. Kalau ROAS backend masih sehat tapi campaign di-throttle karena budget limit → naik budget sampai tidak ada status “Limited by budget” lagi.

  4. GMC approval rate masih > 90%? Di bawah ini = eligible inventory terlalu kecil untuk scale. Selalu re-check setiap bulan karena feed bisa ter-disapprove karena perubahan produk atau perubahan policy GMC.

  5. Ada zombie products baru? Produk baru yang masuk feed tapi tidak pernah mendapat konversi dalam 60+ hari = zombie. Review setiap bulan dan pertimbangkan kampanye khusus atau exclusion.

  6. Ada product launch atau promo bulan depan? Ini sering dilewatkan. Product launch butuh feed update, asset baru, dan mungkin perubahan campaign structure minimal seminggu sebelum launch — bukan H-1.


Benchmark Performa yang Realistis

Metric Benchmark Catatan
Shopping ROAS (platform) 4–8× Haircut 15–20% untuk backend truth
PMax ROAS (platform) 5–10× Haircut 30–40% untuk backend truth
Shopping CTR 0,8–2% Di bawah 0,6% = masalah harga atau GMC
Shopping CVR 1,5–4% Variasi tinggi per kategori produk
Branded CPC Rp300–2.000 Di atas Rp7.500 = ada masalah kompetitor brand bidding

[PERLU VERIFIKASI] Benchmark di atas adalah range umum berdasarkan referensi — angka aktual bervariasi signifikan per kategori produk, seasonality, dan kompetitivitas market.


Bagaimana BAIK Digital Menerapkan Ini

Di BAIK Digital, setiap onboarding klien Google Ads baru selalu dimulai dengan Phase A discovery dulu — bukan langsung audit akun. Ini penting karena rekomendasi strategi bergantung pada unit economics bisnis, bukan hanya performa iklan. Untuk brand homeware yang kami onboard, discovery awal mengungkap bahwa gross margin hanya 28% — artinya target ROAS yang awalnya diminta klien (6×) secara matematis tidak feasible tanpa squeeze CAC ke titik yang mustahil. Setelah re-alignment target ke 4× backend ROAS dengan margin 28%, brand tersebut berhasil mencapai Rp380 juta revenue/bulan dari Google Ads dalam 90 hari pertama — lebih realistis tapi sustainable.


Relevan untuk Siapa?

Relevan kalau:

  • Baru mulai Google Ads atau baru onboard klien baru ke Google Ads
  • ROAS terlihat bagus di platform tapi tidak tercermin di Shopify atau backend
  • Sudah 3+ bulan di Google Ads tapi tidak bisa scale tanpa ROAS collapse

Belum relevan kalau:

  • Brand belum punya GMC yang approved — setup GMC dulu, baru masuk ke strategi ini
  • Spend masih di bawah Rp10 juta/bulan dan produk catalog sangat kecil — pada skala ini, Standard Shopping + Branded sudah cukup tanpa framework yang kompleks

Mau Audit Akun Google Ads Brand Kamu?

BAIK Digital adalah performance ads strategic partner berbasis Jakarta yang membantu brand retail Indonesia tumbuh secara sustainable. Dengan pengalaman menangani 16+ brand retail aktif, kami membantu audit, restrukturisasi, dan scale Google Ads — dari fix tracking di hari pertama sampai scale ke Rp500 juta+/bulan.

Dapatkan Free Brand Audit →


Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah PMax harus selalu ada di akun, atau Standard Shopping saja sudah cukup?

Standard Shopping saja sudah cukup di budget kecil (di bawah Rp75 juta/bulan). PMax berguna sebagai supplement untuk mengisi gap coverage yang tidak di-cover Shopping — terutama YouTube dan Display. Tapi di budget kecil, PMax sering justru “makan” budget yang lebih efisien digunakan di Standard Shopping. Post-2025, Standard Shopping sudah bisa compete secara langsung dengan PMax di Search inventory, sehingga argumen untuk PMax sebagai primary campaign makin lemah.

Kenapa tidak langsung pakai smart bidding dari awal?

Smart bidding (Target ROAS atau Maximize Conversion Value) butuh minimal 30 konversi per campaign dalam 30 hari untuk bekerja dengan baik. Di bawah itu, algoritmanya tidak punya cukup sinyal untuk optimize delivery. Memaksakan smart bidding di bawah threshold ini biasanya menghasilkan spend yang sangat tidak konsisten — burst spending di hari tertentu, lalu tidak ada spending di hari lain. Maximize Clicks dengan max CPC guard adalah cara yang lebih stabil untuk mulai mengumpulkan data konversi.

Bagaimana cara hitung berapa ROAS target yang realistis untuk bisnis saya?

Mulai dari gross margin: kalau gross margin 50%, ROAS breakeven = 1 ÷ 50% = 2×. Artinya ROAS di bawah 2× berarti rugi. Target ROAS yang sehat biasanya 1,5–2× dari breakeven ROAS: untuk margin 50%, target sekitar 3–4×. Jangan set target berdasarkan keinginan atau benchmark umum — set berdasarkan unit economics bisnis kamu sendiri.

Apa yang harus dilakukan kalau akun sudah berjalan tapi tidak ada konversi sama sekali?

Cek urutan ini: (1) Apakah conversion tracking aktif dan Count One sudah di-set? (2) Apakah GMC approval rate di atas 90%? (3) Apakah ada impression yang masuk? Kalau ada impression tapi tidak ada konversi → landing page atau harga bermasalah. Kalau tidak ada impression sama sekali → budget terlalu rendah, max CPC terlalu rendah, atau GMC ada masalah. Jangan mulai optimize bidding sebelum tahu mana akar masalahnya.

Kapan waktu yang tepat untuk tambahkan Search campaign di atas Shopping?

Saat budget sudah di atas Rp225 juta/bulan dan Standard Shopping + PMax sudah stabil. Search campaign cold memerlukan negative keyword research yang intensif dan ongoing — tanpa itu, akan banyak irrelevant clicks. Untuk brand e-commerce mass market di Indonesia, Standard Shopping biasanya lebih efisien dari Search untuk cold acquisition karena intent signal dari visual dan harga lebih kuat dari keyword match.