GDN vs GSN: Setup, Targeting, dan Optimasi untuk eCommerce Indonesia
Jawaban Singkat
GDN (Google Display Network) cocok untuk awareness dan remarketing murah karena menjangkau audience pasif di 2 juta+ situs dengan CPC rendah — tapi CVR juga rendah. GSN (Google Search Network) menjangkau user dengan intent aktif saat mereka search, CVR lebih tinggi tapi volume terbatas oleh keyword. Untuk eCommerce Indonesia: prioritaskan Shopping + GSN untuk akuisisi, GDN hanya untuk remarketing.
Banyak brand Indonesia yang sudah menjalankan Google Shopping dan Search ads, tapi tidak pernah menyentuh GDN atau RLSA. Padahal keduanya bisa menjadi channel remarketing yang sangat cost-efficient — terutama RLSA yang menggabungkan sinyal search intent dengan data audience yang sudah warm.
GDN vs GSN: Perbandingan Dasar
| Aspek | GDN | GSN |
|---|---|---|
| Intent user | Pasif — sedang scroll/baca | Aktif — sedang search |
| Funnel stage | TOFU/MOFU (awareness, consideration) | MOFU/BOFU (consideration, purchase) |
| Scale | Sangat besar — 2 juta+ situs mitra | Terbatas oleh volume keyword |
| Conversion Rate | Lebih rendah | Jauh lebih tinggi |
| CPC | Lebih murah | Lebih mahal |
| Paling cocok untuk | Awareness, remarketing, brand building | Direct response, high-intent buyers |
Rekomendasi untuk eCommerce budget terbatas: Prioritaskan Shopping dan GSN untuk akuisisi. Gunakan GDN hanya untuk remarketing dengan budget minimal (Rp70–145 ribu per hari sudah cukup untuk menjangkau warm audience secara konsisten).
Google Display Network (GDN)
2 Mode Targeting Keyword GDN — Yang Banyak Tidak Tahu
GDN keyword targeting punya dua mode yang bekerja sangat berbeda, tapi sebagian besar advertiser tidak menyadari perbedaan ini:
Mode 1 — Keyword Audience (default): Iklan muncul kepada orang yang tertarik dengan keyword tersebut, terlepas dari situs apa yang sedang mereka buka. Keyword “diet supplement” → iklan muncul ke orang dengan interest di area ini, bahkan ketika mereka sedang membaca berita olahraga atau browsing blog fashion.
Ini tentang WHO (siapa orangnya), bukan WHERE.
Mode 2 — Content Targeting: Iklan muncul di halaman yang mengandung keyword tersebut. Keyword “diet supplement” → iklan tampil di artikel yang membahas diet supplement.
Ini tentang WHERE (konten situs), bukan WHO.
Cara switch mode: Di ad group settings → Keywords → pilih “Content” atau “Audience” mode.
Kapan pakai masing-masing: Content Mode = lebih contextual dan presisi, cocok untuk direct sales di niche spesifik. Audience Mode = lebih broad reach, cocok untuk scale dan awareness. Untuk kebanyakan eCommerce: mulai dengan Content Mode untuk presisi, expand ke Audience Mode setelah conversion data terkumpul.
5 Jenis Targeting GDN
1. Location Targeting: Kota atau provinsi yang relevan. Wajib: pilih “People in targeted location” — bukan “Presence or interest” yang bisa menarik traffic dari luar target area.
2. Time Targeting: Schedule iklan hanya di jam/hari yang punya conversion rate tinggi. Butuh minimal 40.000 clicks dengan data konversi sebelum bisa membuat keputusan valid tentang scheduling.
3. Content Targeting (di mana iklan muncul):
- Keywords: iklan di halaman yang berisi keyword
- Topics: iklan di website dengan topik tertentu (misalnya “Health & Fitness”)
- Placements: pilih situs spesifik secara manual (kompas.com, halaman tertentu di tokopedia blog)
4. People Targeting (siapa yang melihat iklan):
- Demographics: usia, gender, parental status, dan Household Income (Top 10% paling relevan untuk brand premium — ini targeting yang sangat underused di Indonesia)
- In-Market Audiences: user yang sedang aktif riset atau mau beli produk sejenis — ini “hot leads” dengan conversion rate lebih tinggi dari affinity biasa
- Affinity Audiences: user dengan minat dan gaya hidup tertentu — lebih broad, lebih low-intent
- Custom Affinity: dibangun sendiri menggunakan keyword + competitor URLs + competitor apps
Custom Affinity Trick — sangat underused: Masukkan landing page URL spesifik kompetitor (bukan hanya domain utama, tapi halaman produk mereka) ke Custom Affinity Builder. Google membangun audience yang profilnya mirip dengan visitor kompetitor tersebut — jauh lebih targeted dibanding generic affinity categories.
5. Automated Targeting: Google otomatis expand targeting berdasarkan performance data. Aktifkan setelah campaign sudah punya data konversi yang solid — jangan dari hari pertama.
Responsive Display Ads: Standard 2026
Format standar untuk GDN adalah Responsive Display Ads — Google otomatis test kombinasi headline, description, dan gambar.
Assets wajib:
- Landscape image: 1200×628px
- Square image: 1200×1200px
- Landscape logo: 1200×300px
- Short Headline: max 25 karakter (tanpa tanda baca — titik/koma tidak boleh)
- Long Headline: max 90 karakter
- Description: max 90 karakter
Catatan penting: Manual banner per ukuran (300×250, 728×90, dll) adalah pendekatan yang sudah deprecated. Responsive Display Ads mengcover semua placement dengan satu set assets dan performing lebih baik karena dioptimasi oleh algoritma Google.
GDN Optimization Flow: 5 Area dengan Data Threshold
Urutan ini wajib diikuti — jangan skip atau ubah urutan:
Area 1: Placement Exclusion (prioritas pertama) Buka tab “Where Ads Showed” → sort by Clicks descending. Placement dengan 1.000+ clicks dan kurang dari 3 konversi → exclude. Untuk Blogspot, YouTube, media besar seperti Detik/Kompas: exclude per deep URL spesifik, bukan entire domain.
Area 2: Switch ke Target CPA Syarat minimum: 30 konversi dalam 30 hari. Sebelum threshold ini → tetap Maximize Clicks dan terus placement exclusion.
Area 3: Optimasi Elemen dengan Threshold Ketat
| Elemen | Minimum Clicks Dulu | Pause Kalau | Scale Kalau |
|---|---|---|---|
| Placement | 1.000 klik | < 3 konversi | > 20% CVR |
| Topic/In-Market | 3.000–5.000 klik | < 10 konversi | > 40 konversi |
| Demographics | 3.000–5.000 klik | < 10 konversi | > 40 konversi |
| Keyword (Display) | 10.000 klik | < 30 konversi | — |
| Affinity | 30.000 klik | — | Per analisis |
| Scheduling | 40.000+ klik | — | Per jam/hari |
Jangan membuat keputusan tentang elemen sebelum threshold data tercapai — sinyal terlalu noise untuk diinterpretasikan secara valid.
Area 4: RLSA Setup RLSA (Remarketing Lists for Search Ads) — explained in detail below.
Area 5: Scale Up Cycle Scale hanya setelah CPA < profit per transaksi:
- Naikkan budget 20% → evaluasi placement kembali
- Kalau budget tidak habis → naikkan bid 10%
- Kalau bid sudah optimal → tambah targeting layer baru
- Ulangi dari step 1
RLSA: Remarketing + Search — Paling Underused di Indonesia
RLSA = remarketing audience + Google Search Network.
Cara kerjanya: user yang sudah pernah visit website kamu → kemudian mereka search keyword tertentu di Google → iklan GSN kamu muncul dengan prioritas lebih tinggi atau bid yang disesuaikan.
Mengapa ini sangat powerful: Keyword “diet supplement” dari cold searcher = intent biasa. Keyword “diet supplement” dari orang yang sudah visit produk page kamu 3 hari lalu dan belum checkout = intent yang jauh lebih tinggi. CVR bisa 5–10x lebih tinggi dari cold traffic.
Setup RLSA:
- Audience Manager → Create audience list berdasarkan URL segments
- GSN Ad Group → Audiences → Add audience → pilih list yang relevan
- Pilih mode:
- Target and bid: Iklan HANYA muncul ke audience list (full retargeting campaign)
- Bid only: Iklan muncul ke semua, tapi bid lebih tinggi untuk audience dari list
Bid adjustment rekomendasi per segment:
- Cart abandoners (add to cart, tidak checkout): +70–100%
- Testimonial page viewers (belum checkout): +50%
- All site visitors 30 hari: +20–30%
- Past purchasers (untuk upsell): buat campaign terpisah
Google Search Network (GSN)
Posisi GSN dalam Stack Google Ads eCommerce
Untuk eCommerce yang sudah menjalankan Shopping: Shopping > GSN. GSN hanya relevan untuk:
- B2B atau custom products yang tidak bisa dihandle Shopping
- Keyword dengan high search volume tapi tidak ada visual product yang match
- Brand/competitor keywords untuk defensive positioning
Kalau produk kamu bisa diiklankan di Shopping, prioritaskan Shopping terlebih dahulu. GSN sebagai complement, bukan primary channel.
Setup GSN yang Benar
Matikan: Search Partners + Display Network (wajib off untuk kontrol)
Match types: Phrase Match + Exact Match saja (bukan Broad Match di awal)
Per ad group: 1 tema keyword (tidak campur tema berbeda dalam satu ad group)
Jumlah RSA per ad group: minimal 3 Responsive Search Ads
Extensions: Pasang semua kecuali App Extension dan Price Extension
Mengapa Broad Match tidak direkomendasikan di awal: Broad Match di akun baru tanpa conversion data yang solid akan menarik banyak irrelevant queries yang membuang budget. Gunakan Broad Match hanya setelah akun punya conversion history yang kuat dan Custom Audience signals yang baik.
Quality Score: Menentukan Ad Rank Tanpa Naikkan Bid
Ad Rank = Bid × Quality Score × Expected Impact of Extensions
Quality Score terdiri dari:
- Expected CTR — prediksi historical CTR untuk keyword ini
- Ad Relevance — seberapa relevan ad copy dengan keyword
- Landing Page Experience — load speed, relevance content, mobile-friendly
Target: QS 8–10 untuk semua keywords utama. Kalau ada komponen yang “Below Average” → fix sebelum naikkan bid.
Cara lihat QS per keyword: Campaigns → Keywords → Columns → Modify Columns → tambahkan Quality Score + Ad Relevance + Landing Page Experience + Expected CTR.
Logika targetkan posisi 2.x, bukan 1.x: Posisi 1.x = CPC tertinggi. Tapi volume klik yang diperoleh dari posisi 1 vs posisi 2–3 biasanya tidak setimpal dengan perbedaan biayanya. Investasi perbedaan budget ke QS improvement jauh lebih sustainable karena menurunkan CPC secara permanen.
Search Impression Share target: 80%+. Kalau di bawah ini, ada opportunity yang terlewat karena budget atau QS yang kurang optimal.
Extensions: Semua Wajib Kecuali 2
- Sitelink Extension: 4+ links ke halaman spesifik (promo, kategori, testimonial)
- Callout Extension: keunggulan brand (Free Ongkir, Garansi 30 Hari, dll)
- Structured Snippet Extension: list produk atau layanan
- Call Extension: nomor telepon kalau ada tim yang bisa dihubungi
- Location Extension: kalau ada toko fisik
- Image Extension: gambar produk di search ads — visible di mobile
Yang tidak perlu: App Extension (kecuali punya app) dan Price Extension (terlalu spesifik dan berubah, sulit dijaga akurasinya).
GSN Optimization: 3 Tahap Berurutan
Tahap 1 — Evaluasi 5 Metrik (Tunggu 3–5 hari data):
| Metrik | Target | Tindakan kalau tidak tercapai |
|---|---|---|
| Keyword traffic | Ada impressions | Cek budget atau spesifisitas keyword |
| Quality Score | 8–10/10 | Fix komponen yang Below Average dulu |
| Position | 2.0–2.9 | Bid lebih agresif atau fix QS |
| CTR | Min 5% (buying keywords) | Revisi ad copy, cek relevance keyword |
| Conversion Rate | Min 10% (buying), min 5% (general) | Audit landing page |
Tahap 2 — Optimasi:
- Pause keywords dengan CTR < 1% setelah minimal 100 clicks
- Search Terms Report → tambahkan irrelevant queries sebagai negative keywords
- Test headline baru berdasarkan CTR per ad component
- QS “Below Average” → fix ad relevance (masukkan keyword exact ke headline) atau landing page (speed dan konten)
Tahap 3 — Scaling: Kalau profitable (CPA < target) dan budget habis sebelum hari selesai → naikkan budget 15–20%. Kalau tidak profitable → kembali ke Tahap 2 sebelum scale apapun.
Di BAIK Digital: GDN untuk Remarketing, GSN untuk Intent
Di BAIK Digital, GDN paling sering digunakan sebagai remarketing channel yang cost-efficient — menjangkau kembali website visitor dengan biaya yang jauh lebih rendah dari Facebook/Instagram retargeting untuk audience yang sama. RLSA juga sering menjadi quick win: brand yang sudah punya traffic GSN aktif bisa langsung naik conversion rate dengan menambahkan audience lists yang tepat ke campaign yang sudah berjalan. Setup awal membutuhkan waktu, tapi dampaknya terasa dalam 2–4 minggu pertama.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah GDN masih relevan di era Meta Ads dan TikTok Ads yang dominan?
Masih relevan untuk satu use case spesifik: remarketing murah. CPC GDN untuk warm audience jauh lebih rendah dari Meta retargeting yang semakin mahal. Untuk brand yang sudah menjalankan Meta dan ingin menambah touchpoint remarketing di biaya lebih rendah, GDN adalah pilihan logis. Tapi sebagai akuisisi channel utama, GDN tidak kompetitif untuk sebagian besar eCommerce Indonesia.
Keyword match type mana yang sebaiknya dipakai di GSN?
Untuk awal: Phrase Match + Exact Match. Phrase Match menangkap variasi keyword yang relevan dengan tetap menjaga kontrol. Exact Match untuk keyword dengan conversion history terbukti. Broad Match hanya setelah conversion volume sudah signifikan (200+ konversi) dan audience signals sudah kuat — sebelum itu, Broad Match akan menarik terlalu banyak irrelevant traffic.
Apakah perlu Conversion Tracking sebelum menjalankan GDN/GSN?
Mutlak harus ada. Tanpa conversion tracking, tidak ada data untuk membuat keputusan placement exclusion di GDN, tidak ada sinyal untuk Smart Bidding, dan tidak ada cara untuk tahu apakah budget yang dikeluarkan menghasilkan ROI. Setup pixel standard (PageView, AddToCart, Purchase) adalah prerequisite sebelum menjalankan campaign apapun.
Seberapa sering Search Terms Report perlu dicek untuk kampanye GSN?
Minimal seminggu sekali untuk akun aktif, idealnya 2–3 kali per minggu di bulan pertama. Negative keywords yang ditambahkan dari Search Terms Report secara langsung meningkatkan efisiensi spend karena membuang irrelevant queries yang memakan budget tanpa convert.
Kapan harus mempertimbangkan Performance Max daripada Shopping + GSN terpisah?
Performance Max (PMax) cocok setelah akun punya conversion history yang solid (50+ konversi per bulan minimum) dan feed produk yang bersih. Untuk akun baru atau yang conversion volume-nya masih rendah, Standard Shopping + GSN terpisah memberikan kontrol lebih besar dan data yang lebih mudah diinterpretasikan. PMax black box lebih mudah dioptimalkan setelah algoritma punya signal yang cukup.