LTGP vs CAC: Framework Pilih Customer yang Tepat

BAIK Digital ·

LTGP vs CAC: Framework Pilih Customer yang Tepat

LTGP (Lifetime Gross Profit) adalah total keuntungan kotor yang dihasilkan dari satu customer sepanjang hubungannya dengan brand-mu. CAC (Customer Acquisition Cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu customer baru. Ratio keduanya — LTGP:CAC — adalah salah satu indikator paling jujur tentang apakah bisnis retail kamu sebenarnya sehat atau hanya terlihat sehat.

ROAS yang tinggi bisa menipu. Brand dengan ROAS 8x bisa tetap bleeding money kalau average order value-nya kecil, margin tipisnya, dan customer tidak pernah kembali. Sementara brand dengan ROAS 3x tapi repeat rate tinggi dan margin sehat bisa jauh lebih profitable dalam jangka panjang.

Kenapa ROAS Saja Tidak Cukup sebagai Ukuran Kesehatan

ROAS mengukur pendapatan yang dihasilkan per rupiah iklan yang dibelanjakan dalam satu transaksi. Yang tidak tertangkap: apakah customer yang didapat itu akan kembali? Berapa margin yang tersisa setelah semua biaya? Apakah channel yang menghasilkan ROAS tinggi juga menghasilkan customer yang profitable jangka panjang?

Dashboard “hijau” bisa menipu kalau sistemnya bocor — ROAS bagus tapi profitnya tidak pernah tercapai karena margin yang tipis atau customer yang tidak pernah balik lagi.

LTGP:CAC menjawab pertanyaan yang lebih penting: untuk setiap rupiah yang diinvestasikan untuk mendapatkan customer, berapa kali lipat kita akan memperolehnya kembali selama customer itu bersama kita?

Cara Hitung CAC untuk Brand Retail Indonesia

CAC adalah total biaya akuisisi dibagi jumlah customer baru yang didapat dalam periode tertentu.

Formula:

CAC = Total Biaya Akuisisi / Jumlah Customer Baru

Yang masuk ke “Total Biaya Akuisisi”:

Yang tidak dimasukkan:

Contoh kalkulasi:

Cara Hitung LTGP untuk Brand Retail Indonesia

LTGP adalah gross profit total yang dihasilkan dari satu customer selama mereka masih aktif sebagai customer-mu.

Formula:

LTGP = Gross Profit per Transaksi × Rata-rata Jumlah Transaksi per Customer

Yang dibutuhkan untuk hitung LTGP:

  1. Gross profit margin per order (bukan gross revenue)
  2. Rata-rata jumlah transaksi customer dalam satu tahun (dari data CRM atau spreadsheet order)
  3. Rata-rata berapa lama customer tetap aktif (churn rate)

Contoh kalkulasi brand fashion:

LTGP:CAC = Rp787.500 / Rp150.000 = 5,25:1

Ini ratio yang sehat.

Ratio Sehat: Angka yang Harus Kamu Tahu

Minimum: LTGP:CAC = 3:1 Di bawah angka ini, bisnis kamu berisiko — terutama saat ada biaya overhead yang belum dihitung atau saat kondisi pasar berubah.

Ideal: LTGP:CAC = 5:1 atau lebih Angka ini memberi ruang untuk biaya operasional, error margin dalam kalkulasi, dan investasi untuk tumbuh tanpa khawatir margin habis.

Tanda bahaya: LTGP:CAC di bawah 2:1 Ini berarti untuk setiap Rp1 yang diinvestasikan untuk dapat customer baru, kamu hanya akan balik Rp2 sepanjang customer itu aktif — dan itu sebelum memperhitungkan biaya operasional lain.

Kapan Ekspansi Channel Baru Masuk Akal

Salah satu pertanyaan paling penting yang dijawab oleh framework ini adalah: kapan worth it untuk masuk ke channel baru?

Ekspansi channel baru masuk akal jika:

  1. LTGP:CAC pada primary channel sudah di atas 4:1 — artinya ada “slack” finansial untuk berinvestasi di channel baru yang awalnya belum efisien
  2. CAC di primary channel mulai meningkat — tanda bahwa audience sudah mulai jenuh atau kompetisi meningkat. Channel baru bisa membuka sumber customer dengan CAC lebih efisien
  3. Data menunjukkan ada segment customer yang high LTGP tapi belum optimal dijangkau — misalnya, customer terbaik-mu ternyata datang dari TikTok tapi budget TikTok masih minimal

Ekspansi channel baru belum masuk akal jika:

Contoh Kalkulasi per Jenis Brand

Brand Skincare dengan Repeat Purchase Tinggi:

Brand Fashion dengan Repeat Purchase Rendah:

Perbedaan angka ini menjelaskan kenapa brand skincare bisa profitable dengan CAC Rp300.000+ sementara brand fashion dengan karakteristik serupa tidak bisa — karena lifetime value-nya berbeda signifikan.

Cara Meningkatkan Ratio LTGP:CAC

Dua arah: turunkan CAC atau naikkan LTGP.

Turunkan CAC:

Naikkan LTGP:

Di BAIK Digital, kami mulai selalu bahas LTGP:CAC dengan klien sebagai bagian dari onboarding — bukan karena ini metrik yang keren, tapi karena ini yang membuat keputusan tentang berapa bisa dibelanjakan untuk iklan menjadi jauh lebih terinformasi.

Kesimpulan: ROAS Bercerita tentang Kemarin, LTGP:CAC Bercerita tentang Masa Depan

ROAS bagus adalah sinyal yang menyenangkan. Tapi LTGP:CAC yang sehat adalah fondasi bisnis yang bisa tumbuh secara profitable dan berkelanjutan. Mulai hitung keduanya dengan data yang kamu punya sekarang — tidak perlu sempurna, tapi estimasi yang masuk akal sudah jauh lebih baik dari tidak menghitung sama sekali.

FAQ

Apakah LTGP sama dengan LTV (Lifetime Value)? Mirip tapi berbeda. LTV (atau CLV) biasanya mengacu pada total revenue dari satu customer. LTGP mengacu pada total gross profit — yang lebih relevan untuk keputusan bisnis karena sudah memperhitungkan margin. Pakai LTGP, bukan LTV, untuk keputusan finansial.

Bagaimana kalau brand-ku masih baru dan belum punya data repeat purchase? Gunakan benchmark industri sebagai titik mulai, atau estimasi konservatif: asumsikan customer hanya beli 1-2 kali. Ini akan menghasilkan LTGP yang lebih rendah, tapi lebih aman untuk kalkulasi. Seiring data terkumpul, update angkanya.

Apakah perlu tools khusus untuk hitung LTGP dan CAC? Tidak. Spreadsheet sederhana dengan data dari platform iklan, payment gateway, dan catatan order sudah cukup untuk kalkulasi yang actionable. Yang penting konsistensi metodologi dari bulan ke bulan agar data bisa dibandingkan.

Kenapa ratio 3:1 dianggap minimum dan bukan lebih rendah? Karena LTGP:CAC 3:1 hanya memperhitungkan gross profit, belum biaya overhead dan operasional lainnya. Dalam praktek, net profit margin jauh lebih kecil dari gross profit margin. Ratio 3:1 memberikan “buffer” agar setelah semua biaya, bisnis masih profitable.

Apakah ratio ini berbeda untuk bisnis yang fokus di marketplace vs. website sendiri? Ya. Bisnis yang berjualan di marketplace punya margin yang lebih tergerus oleh komisi dan biaya platform. LTGP per customer di marketplace biasanya lebih rendah dibanding customer yang beli langsung di website. Ini salah satu argumen untuk membangun direct-to-consumer channel seiring bisnis tumbuh.

← Kembali ke semua artikel Diskusi strategi dengan BAIK Digital →