Kenapa ROAS Tinggi tapi Profit Tipis? Ini Penjelasannya

BAIK Digital ·

Kenapa ROAS Tinggi tapi Profit Tipis? Ini Penjelasannya

ROAS (Return on Ad Spend) hanya mengukur perbandingan revenue dengan biaya iklan — bukan profitabilitas bisnis secara keseluruhan. ROAS 5x bisa tetap merugi kalau biaya produk, operasional, dan fulfillment tidak diperhitungkan. Break-even ROAS adalah angka yang lebih penting untuk diketahui.

Ini skenario yang lebih sering terjadi dari yang kamu kira: dashboard Meta Ads hijau, ROAS 4-5x, tapi di akhir bulan uang di rekening tidak naik signifikan. Bahkan ada yang lebih banyak iklan, lebih banyak revenue, tapi profit justru lebih tipis dari sebelum beriklan. Ada yang salah — dan biasanya bukan di iklannya.

Apa Itu Break-Even ROAS dan Cara Menghitungnya

Break-even ROAS adalah ROAS minimum yang membuat kamu tidak rugi — bukan untung, tapi setidaknya impas setelah semua biaya diperhitungkan.

Rumusnya sederhana:

Break-Even ROAS = 1 ÷ Gross Margin

Contoh: kalau gross margin kamu 40% (setelah HPP), berarti break-even ROAS kamu adalah 1 ÷ 0,4 = 2,5x.

Artinya, ROAS 2,5x hanya berarti kamu impas dari sisi HPP vs iklan. Kamu belum menghitung biaya lain: ongkos kirim, packing, admin marketplace, biaya operasional, gaji tim, dan lain-lain.

Kalau semua biaya non-HPP itu totalnya mengambil 15% dari revenue, maka gross margin efektif kamu turun dari 40% ke 25%, dan break-even ROAS naik menjadi 4x.

Contoh Nyata

Misalkan kamu jual baju dengan harga Rp300.000:

Total biaya selain HPP: Rp66.000 Margin bersih per order: Rp180.000 - Rp66.000 = Rp114.000 Effective margin: Rp114.000 ÷ Rp300.000 = 38%

Break-even ROAS aktual: 1 ÷ 0,38 = 2,63x

Artinya kalau ROAS kamu 2,5x, kamu masih tipis di bawah break-even. ROAS 5x memang bagus, tapi baru setelah ini kamu bisa hitung berapa margin yang tersisa setelah semua biaya.

Biaya Tersembunyi yang Sering Tidak Diperhitungkan

Ini daftar “pembunuh profit” yang sering luput dari kalkulasi:

1. Biaya retur dan refund Industri fashion Indonesia rata-rata punya retur 5-15%. Setiap retur bukan hanya hilang revenue — kamu juga menanggung biaya kirim balik, waktu proses, dan kemungkinan produk tidak bisa dijual kembali dengan harga penuh.

2. Admin fee marketplace yang berlapis Shopee, Tokopedia, TikTok Shop — semuanya punya fee yang bisa 6-12% dari GMV. Ditambah biaya iklan di dalam marketplace sendiri (Shopee Ads, etc.), angkanya bisa lebih tinggi lagi.

3. Biaya fulfillment yang tidak dihitung per order Gaji karyawan gudang, sewa tempat, utilitas — semua ini real cost yang harus dialokasikan per order kalau ingin tahu profitabilitas sesungguhnya.

4. Cost of Poor Quality (COPQ) Komplain pelanggan, produk cacat yang harus dikirim ulang, refund — ini biaya riil yang jarang masuk kalkulasi tapi sangat nyata.

5. “Iklan” lain selain Meta Banyak brand hitung ROAS hanya dari Meta Ads, padahal mereka juga spend di TikTok Ads, influencer, Shopee Ads. Total marketing spend bisa 2-3x lipat dari apa yang masuk ke Meta — tapi ROAS hanya dihitung dari Meta saja.

Contribution Margin: Cara Lebih Akurat Ukur Kesehatan Bisnis

Di BAIK Digital, kami tidak hanya melihat ROAS — kami melihat Contribution Margin (CM), terutama CM1 dan CM2.

CM1 (Contribution Margin 1): Revenue - HPP - Biaya variabel langsung per order (ongkir, packing, admin marketplace)

CM1 ini menunjukkan berapa yang tersisa dari setiap rupiah penjualan sebelum biaya marketing dan overhead.

CM2 (Contribution Margin 2): CM1 - Biaya marketing (total spend iklan dari semua channel)

CM2 ini yang paling mencerminkan “berapa yang benar-benar saya dapat setelah semua biaya variabel termasuk iklan.”

Kalau CM2 kamu negatif, kamu rugi untuk setiap order yang masuk — tidak peduli ROAS-nya berapa. Ini kondisi yang harus segera dibenahi sebelum scaling.

Contoh Kalkulasi CM

Revenue bulanan: Rp500 juta HPP: Rp200 juta Biaya variabel lain (ongkir, packing, admin): Rp80 juta CM1: Rp220 juta (44%)

Total spend iklan: Rp80 juta (ROAS = 500/80 = 6,25x — kelihatan bagus) CM2: Rp140 juta (28%)

Setelah overhead dan operasional (Rp100 juta): Profit bersih: Rp40 juta (8%)

ROAS 6,25x tapi profit margin hanya 8%. Kalau ada yang bilang “gampang tinggal naikkan spend,” mereka tidak melihat gambaran lengkap — karena naikkan spend tanpa perbaiki struktur biaya bisa jadi artinya profit margin turun di bawah 5%.

Kenapa Brand Sering Terjebak ROAS Tinggi tapi Rugi

Ada beberapa mekanisme yang bikin ini terjadi:

Memberikan diskon besar untuk naikkan konversi. Diskon meningkatkan ROAS dalam jangka pendek (lebih banyak order dengan spend yang sama), tapi margin per order turun. Net hasilnya: lebih banyak kerja, lebih sedikit untung.

Mix produk yang salah. Iklan paling perform adalah produk dengan harga terendah — tapi margin-nya juga paling tipis. Produk premium yang lebih profitable justru tidak dikuatkan di iklan.

Scaling saat unit economics belum sehat. Naikkan spend tanpa perbaiki CM terlebih dahulu = scaling kerugian. Ini salah satu insight paling penting yang sering diabaikan.

Kesimpulan: ROAS Adalah Permulaan, Bukan Kesimpulan

ROAS yang bagus di dashboard seharusnya jadi pintu masuk analisis, bukan akhir dari analisis. Pertanyaan yang lebih tepat setelah melihat ROAS adalah: “Setelah semua biaya, berapa CM2 kita?” dan “Apakah kita sudah di atas break-even ROAS yang sesungguhnya?”

Struktur biaya yang sehat adalah fondasi sebelum berpikir scaling. Ini prinsip yang selalu kami tekankan sebelum mulai diskusi tentang ekspansi budget — karena naikkan spend tanpa fondasi yang benar hanya mempercepat masalah.

FAQ

Berapa ROAS yang dianggap bagus untuk iklan Meta Ads? Tidak ada angka universal. ROAS “bagus” tergantung gross margin dan break-even ROAS bisnis kamu. Untuk bisnis dengan margin 40%, break-even ROAS bisa di 3-4x. ROAS di atas break-even itulah yang “bagus” untuk bisnis kamu spesifik.

Bagaimana cara menghitung break-even ROAS saya? Hitung semua biaya variabel per order (HPP + ongkir + packing + admin marketplace + estimasi retur), kurangi dari harga jual, dan bagi dengan harga jual. Itu gross margin efektif kamu. Break-even ROAS = 1 dibagi gross margin efektif.

Apakah ROAS dashboard Meta selalu akurat? Tidak. ROAS Meta bisa over-report karena view-through attribution dan tracking issues pasca iOS 14. Selalu rekonsiliasi dengan data aktual dari sistem order kamu.

Apa bedanya CM1 dan CM2? CM1 adalah revenue dikurangi HPP dan biaya variabel per order (tidak termasuk marketing). CM2 adalah CM1 dikurangi biaya marketing. CM2 adalah angka paling relevan untuk menilai apakah iklan kamu profitabel secara keseluruhan.

Kenapa scaling budget justru mengurangi profit saya? Kemungkinan CM2 kamu sudah tipis atau negatif sebelum scaling. Menaikkan spend berarti menaikkan biaya marketing tanpa diimbangi peningkatan margin — hasilnya profit semakin tergerus. Perbaiki unit economics dulu, baru scaling.

← Kembali ke semua artikel Diskusi strategi dengan BAIK Digital →