Cara Membuat Konten Tren yang Tetap On-Brand

BAIK Digital ·

Jawaban Singkat: Konten tren yang on-brand bisa dibuat dengan satu framework sederhana: sebelum mengikuti tren apapun, tanyakan tiga pertanyaan — (1) Apakah tren ini relevan dengan topik yang brand kami bahas? (2) Apakah cara mengeksekusinya sesuai dengan tone of voice kami? (3) Apakah audience kami akan menghargai konten ini atau merasa brand kami “maksa”? Jika ketiga jawaban ya, lanjutkan. Jika tidak, lewati — tidak semua tren perlu diikuti. Brand yang konsisten lebih valuable daripada brand yang viral tapi tidak kohesif.

Mengikuti tren konten adalah strategi yang efektif untuk mendapatkan jangkauan organik lebih luas, tapi banyak brand yang akhirnya terlihat tidak konsisten karena mengikuti setiap tren yang muncul tanpa filter. Hasilnya: feed yang kacau secara visual dan tonal, audience yang bingung tentang “sebenarnya brand ini tentang apa”, dan hilangnya brand equity yang sudah dibangun.

Tantangan sebenarnya bukan memilih antara “ikut tren” atau “jaga brand identity” — keduanya bisa dilakukan bersamaan jika ada sistem filter yang jelas. Brand-brand yang berhasil di sosial media umumnya punya kemampuan mengadaptasi tren menjadi bahasa mereka sendiri, bukan sekadar copy-paste format tren ke konten mereka.

Framework Membuat Konten Tren yang Tetap On-Brand

1. Bangun “Brand Content Filter” sebagai standard operasional sebelum eksekusi tren. Brand content filter adalah set pertanyaan singkat yang harus dijawab sebelum memutuskan untuk mengikuti sebuah tren. Ini bisa berupa checklist sederhana yang dipegang semua orang di tim konten: (1) Relevansi topik: apakah tren ini bisa dikaitkan secara natural dengan topik yang biasa brand kami bahas? “Natural” adalah kata kuncinya — jika butuh lompatan logika yang terlalu jauh, tren itu bukan untuk brand Anda. (2) Kesesuaian tone: apakah cara mengeksekusi tren ini sesuai dengan personality brand kami? Brand yang positioning-nya “trusted expert” akan terlihat aneh jika tiba-tiba membuat konten silly humor yang sedang tren. (3) Nilai untuk audience: apakah konten ini memberikan value (hiburan, informasi, atau koneksi emosional) kepada audience kami, atau hanya untuk brand kami sendiri agar terlihat “viral”? (4) Waktu produksi vs. potensi: apakah tren ini cukup besar dan relevan untuk mengalokasikan waktu produksi? Tren yang sudah “hampir lewat” sering tidak worth dikejar. Filter ini bukan untuk mempersulit, tapi untuk memastikan setiap konten tren yang diproduksi masih dalam koridor brand — dan menghemat waktu dengan cepat mengeliminasi tren yang tidak cocok.

2. Adaptasikan format tren, bukan tiru kontennya secara literal. Kunci konten tren yang on-brand adalah memahami esensi tren (formatnya, strukturnya, atau emosinya) kemudian mengisinya dengan konten yang 100% milik brand Anda. Beberapa cara adaptasi yang efektif: (1) Gunakan audio/sound trending tapi dengan visual dan narasi brand sendiri. Sebuah audio yang trending di TikTok bisa menjadi “wrapper” untuk konten edukatif yang sesuai topik brand. (2) Adaptasikan format video trending (transisi tertentu, struktur “POV:”, format “Things I wish I knew”, dll.) dengan subject matter yang relevan dengan brand. Misalnya: “Things I wish I knew before running Meta Ads” untuk brand marketing agency. (3) Gunakan momen atau topik yang sedang trending (berita besar, event nasional, hari peringatan) sebagai hook untuk menyampaikan pesan yang sudah ingin brand sampaikan — bukan memaksakan konten brand ke topik yang tidak relevan. (4) Adaptasikan humor style yang sedang tren dengan konteks industri atau problem audience brand. Humor yang mengacu pada pain points spesifik audience biasanya jauh lebih efektif dari humor generik yang hanya “ikut-ikutan”.

3. Bangun sistem monitoring tren dan pipeline produksi yang cepat. Tren sosial media memiliki lifecycle yang sangat pendek — beberapa hari hingga beberapa minggu. Untuk bisa mengeksekusi dengan cepat tanpa mengorbankan kualitas, brand perlu sistem yang efisien: (1) Designated “tren watcher” di tim — minimal satu orang yang secara rutin memantau TikTok, Instagram Reels, dan Twitter/X untuk identifikasi tren yang relevan. Dedikasikan 15–20 menit setiap hari untuk ini. (2) Template dasar yang sudah siap — memiliki template video, grafis, dan caption yang sudah mengikuti brand guidelines memungkinkan eksekusi tren dalam hitungan jam bukan hari. (3) Approval process yang streamlined untuk konten tren — berbeda dari konten regular yang mungkin butuh multiple approval, konten tren butuh proses yang lebih cepat. Tentukan siapa yang bisa approve dalam 1–2 jam. (4) “Tren backlog” untuk siklus editorial — tidak semua tren harus dieksekusi hari itu juga. Beberapa tren memiliki lifecycle yang lebih panjang dan bisa dieksekusi dalam editorial calendar reguler. Sistem yang baik memungkinkan brand bergerak cepat ketika tren yang tepat muncul, tanpa mengalami situasi “tren sudah lewat sebelum konten selesai dibuat”.

Ingin strategi konten yang konsisten dan tetap relevan dengan tren untuk brand Anda? BAIK Digital membantu brand Indonesia membangun sistem konten yang scalable — dari strategy hingga eksekusi. Konsultasi gratis →

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bagaimana cara tahu kapan sebaiknya mengikuti tren dan kapan sebaiknya tidak?

Gunakan tiga pertanyaan utama sebagai filter: (1) Apakah tren ini relevan secara natural dengan topik brand kami? Jika harus memaksakan koneksi, lewati. (2) Apakah cara mengeksekusinya sesuai dengan tone dan personality brand kami? Tren humor vulgar tidak cocok untuk brand yang positioning-nya family-friendly atau professional. (3) Apakah audienskami akan menghargai konten ini? Jika jawaban ketiganya ya, lanjutkan. Aturan tambahan: tren yang berkaitan dengan isu sensitif (politik, SARA, tragedi) hampir selalu lebih baik dilewati untuk brand komersial, kecuali memang ada koneksi organik yang sangat kuat dan brand memiliki kredibilitas berbicara tentang topik tersebut. Risiko reputasi dari mengikuti tren sensitif dengan cara yang salah jauh lebih besar dari potensi virality-nya.

Apakah brand yang audiensnya lebih tua dan professional juga perlu mengikuti tren konten sosial media?

Ya, tapi dengan approach yang berbeda. Bahkan audience professional B2B mengkonsumsi konten sosial media — mereka hanya mengonsumsinya di platform dan format yang berbeda. Untuk brand dengan audience professional: (1) Platform-nya lebih ke LinkedIn daripada TikTok, tapi trend format konten (carousel, video pendek berformat edukasi) tetap relevan di LinkedIn. (2) Jenis tren yang relevan berbeda — tren topik (isu industri yang sedang banyak dibahas, perubahan regulasi, berita bisnis besar) lebih relevan dari tren audio atau dance challenge. (3) Tone adaptasi tren harus tetap professional — bisa ringan dan relatable, tapi tidak silly atau immature. Brand yang berhasil di LinkedIn sering mengadaptasi format yang awalnya dari TikTok atau Instagram tapi dengan eksekusi yang sesuai untuk audience mereka. Intinya: tren konten bukan hanya tentang “dance challenge” — setiap format baru yang mendapat traction di platform manapun adalah “tren” yang bisa diadaptasi.

Berapa porsi ideal antara konten tren dan konten evergreen dalam kalender konten brand?

Tidak ada formula universal, tapi ada prinsip panduan yang berguna: Konten evergreen (pendidikan, tips, produk, brand story) harus menjadi fondasi mayoritas konten — setidaknya 60–70% dari total volume. Konten evergreen ini yang membangun SEO, brand positioning, dan memberikan value jangka panjang. Konten tren (15–25%) memberikan “momen viral” dan relevansi saat ini yang bisa memperluas jangkauan ke audience baru. Konten real-time/seasonal (10–15%) seperti konten Harbolnas, Lebaran, atau momen event khusus. Penting: rasio ini bisa bervariasi signifikan berdasarkan fase bisnis. Brand yang baru membangun awareness mungkin perlu lebih banyak konten tren untuk mendapatkan exposure. Brand yang sudah established mungkin bisa lebih konservatif karena audience-nya sudah ada. Intinya bukan angka pasti, tapi bahwa konten tren tidak boleh mendominasi hingga menghilangkan identitas brand dalam feed.

Bagaimana cara membuat konten tren tanpa tim konten yang besar atau budget produksi yang tinggi?

Justru sebagian besar format tren di sosial media saat ini lebih mengutamakan authenticity dari pada production quality tinggi. Beberapa cara membuat konten tren dengan resource terbatas: (1) Smartphone sudah cukup — untuk TikTok dan Reels, video shot dengan kamera smartphone dengan pencahayaan yang baik seringkali outperform video yang over-produced. Investasi terpenting adalah pencahayaan dan audio yang jernih. (2) Repurposing konten existing — ambil konten blog atau materi edukasi yang sudah ada dan adaptasikan ke format tren. Ini jauh lebih efisien dari membuat konten dari nol. (3) Fokus pada tren format daripada tren audio — tren format (cara storytelling, struktur konten) memiliki lifecycle lebih panjang dan lebih mudah diadaptasi. Tidak perlu lip-sync atau recreate audio tertentu jika tidak natural untuk brand. (4) Batch production — jadwalkan satu sesi per minggu untuk memproduksi 3–5 konten sekaligus menggunakan format yang serupa. Lebih efisien dari setup produksi setiap hari. (5) Libatkan pendiri atau wajah brand langsung — konten yang menampilkan orang nyata dari brand seringkali lebih engaging dan tidak membutuhkan post-production yang kompleks.

Apa yang harus dilakukan jika konten tren yang sudah dipublikasikan mendapat respons negatif dari audience?

Respon negatif dari konten tren bisa terjadi karena beberapa alasan: eksekusi yang dianggap “maksa” atau tidak authentic, menggunakan tren yang asosiasi negatifnya tidak disadari sebelumnya, atau tone yang tidak sesuai ekspektasi audience. Langkah yang bisa diambil: (1) Evaluasi dulu apakah kritik tersebut valid atau hanya dari sebagian kecil yang vocal. Lihat perbandingan engagement negatif vs. total engagement. (2) Jika kritik valid dan signifikan, akui kesalahan dengan ringkas dan natural — tidak perlu drama, cukup “terima kasih feedbacknya, kami will do better.” Overreacting justru memperbesar isu. (3) Jangan langsung delete konten — ini seringkali justru menarik lebih banyak perhatian negatif. Kecuali konten benar-benar offensive atau bermasalah secara serius. (4) Gunakan sebagai pembelajaran untuk brand content filter Anda ke depan — apa yang melewati filter tapi ternyata tidak cocok untuk brand? (5) Geser fokus dengan mempublikasikan konten berkualitas berikutnya — siklus berita di sosial media bergerak sangat cepat. Konten baru yang bagus akan menggeser perhatian dari konten yang bermasalah.

Bagaimana cara mengukur apakah konten tren yang diproduksi memberikan dampak nyata untuk brand?

Konten tren seringkali memiliki metrics yang berbeda dari konten regular: (1) Reach dan impression: konten tren biasanya memiliki reach yang jauh lebih tinggi dari konten regular karena algoritma memprioritaskan format yang sedang trending. Ukur apakah ini menghasilkan follower baru yang relevan. (2) Follower growth berkualitas: konten tren yang viral bisa membawa banyak follower baru, tapi yang penting adalah retention rate — berapa persen yang masih mengikuti 30 hari setelah viral? Follower yang didapat dari konten tren yang tidak on-brand cenderung memiliki retention rendah. (3) Brand search volume: konten viral yang benar-benar memorable seringkali mendorong orang untuk mencari brand secara langsung. Monitor branded search di platform e-commerce dan Google. (4) Konversi downstream: apakah periode post-viral konten tren berkorelasi dengan peningkatan traffic ke website, peningkatan inquiry, atau peningkatan penjualan? Ini adalah indikator paling kuat bahwa konten tren menguntungkan bisnis secara nyata. (5) Share rate: konten tren yang on-brand dan valuable akan dishare oleh audience. Share rate yang tinggi mengindikasikan konten resonan dengan audience yang tepat, bukan hanya menarik viewers random.

← Kembali ke semua artikel Diskusi strategi dengan BAIK Digital →