Cara Brief Agency Iklan dengan Benar
Brief agency iklan yang baik berisi: data historis performa, target KPI yang spesifik, informasi customer dan produk, budget dan timeline, serta akses yang diperlukan. Tanpa ini, bahkan agency terbaik pun akan bekerja di atas asumsi.
Banyak kerjasama brand-agency yang gagal bukan karena agency tidak kompeten — tapi karena brief yang tidak lengkap membuat agency bekerja di atas terlalu banyak asumsi. Dan asumsi yang salah akan menghasilkan eksekusi yang salah arah, sekeras apapun usaha yang dilakukan.
Menyiapkan brief yang baik bukan tentang membuat dokumen panjang yang formal. Ini tentang memastikan agency punya semua informasi yang mereka butuhkan untuk bekerja efektif sejak hari pertama.
Data Performa Historis
Ini adalah salah satu hal paling valuable yang bisa kamu berikan ke agency — dan yang paling sering tidak disiapkan.
Data historis memberi agency baseline yang jelas: apa yang sudah pernah dicoba, apa yang berhasil, apa yang tidak, dan di level mana bisnis kamu sekarang berada.
Yang perlu disiapkan:
- Data ads historical: Kalau sudah pernah iklan sebelumnya, export data 3–6 bulan terakhir. ROAS, CPP, CTR, spend per bulan. Kalau bisa, breakdown per campaign atau per creative.
- Data revenue: Omzet per bulan minimal 6 bulan terakhir — dari semua channel, bukan hanya yang terattribusi ke iklan.
- Data produk: Best seller, dead stock, produk dengan margin tertinggi, produk yang paling banyak di-return.
- Data customer: Kalau ada, informasi tentang demografi customer existing — usia, lokasi, produk apa yang dibeli pertama.
Kalau belum pernah iklan sama sekali, cukup sediakan data penjualan dan deskripsi customer yang sudah ada. Agency yang baik bisa mulai dari sana.
Target Omzet dan KPI yang Spesifik
“Ingin penjualan naik” bukan target yang bisa dieksekusi. Ini yang perlu kamu tentukan sebelum briefing:
Target omzet: Berapa target omzet per bulan yang ingin dicapai? Dan dari angka itu, berapa yang diharapkan datang dari paid ads?
ROAS target: Berapa ROAS minimum yang membuat bisnis ini profitable? Ini harusnya kamu tahu dari kalkulasi margin. Kalau margin kotor 40%, break-even ROAS sekitar 2,5x — artinya ROAS target yang realistis minimal 3–3,5x untuk masih ada profit.
CPP target: Berapa maksimal yang kamu bersedia bayar untuk satu transaksi?
CPA target (kalau tujuannya lead dulu): Berapa maksimal untuk satu lead atau satu interaksi WA dari iklan?
Minta agency untuk memberikan range target berdasarkan benchmark industri mereka, lalu sepakati bersama. Jangan pasrahkan angka target sepenuhnya ke agency tanpa pemahaman dari sisi bisnis kamu.
Profil Customer (ICP)
Agency perlu tahu siapa yang ingin mereka jangkau. Dan ini lebih dari sekedar “perempuan usia 18–35.”
Informasi ICP yang berguna:
- Usia dan lokasi utama customer yang sudah pernah beli
- Platform media sosial yang mereka aktif gunakan
- Produk kompetitor atau brand lain yang mungkin mereka ikuti
- Motivasi beli: apakah untuk diri sendiri atau sebagai hadiah? Untuk kerja atau leisure?
- Keberatan umum: apa yang biasanya membuat orang tidak jadi beli (harga? ragu soal ukuran? tidak tahu brand?)
Kalau sudah punya data dari customer existing, bagikan. Kalau belum, describe sebaik mungkin dari pengalaman dan observasi kamu.
Produk Best Seller dan Margin
Agency perlu tahu produk mana yang harus diprioritaskan dan produk mana yang margin-nya cukup untuk di-scale via iklan.
Berikan:
- Daftar produk best seller (3–5 teratas)
- Harga jual dan estimasi margin kotor per produk
- Stok yang tersedia (jangan iklankan produk yang stoknya mau habis)
- Produk baru yang ingin di-launch atau di-boost
Ini membantu agency membuat keputusan alokasi budget yang lebih strategis — bukan hanya iklankan produk yang paling murah atau yang paling banyak stok.
Budget dan Timeline yang Realistis
Berikan angka yang jelas, bukan “fleksibel” atau “tergantung hasil”:
Budget bulanan: Berapa yang bisa dialokasikan untuk ad spend (uang yang masuk ke platform iklan) dan berapa untuk fee agency? Keduanya harus jelas.
Timeline: Kapan mulai, kapan ada evaluasi pertama, ada momen penting yang perlu diantisipasi (flash sale, peluncuran produk, musim peak)?
Batasan: Ada constraint yang perlu diketahui? Misalnya, brand tidak boleh iklankan diskon lebih dari 20%, atau ada produk yang tidak boleh di-boost karena margin terlalu tipis?
Akses yang Perlu Diberikan
Ini yang sering memperlambat awal kerjasama. Siapkan akses ini sebelum kick-off:
- Meta Business Manager — invite agency sebagai partner atau tambahkan sebagai user dengan role yang sesuai
- Meta Pixel (pastikan sudah terpasang dan terbaca)
- Akun platform lain yang ingin dikelola (TikTok Ads Manager, Google Ads, Shopee Ads)
- Google Analytics atau tool tracking yang ada
- Akses ke katalog produk (untuk dynamic ads)
Penting: Jangan berikan password langsung. Gunakan sistem role dan permission yang ada di setiap platform. Kamu tetap harus punya akses penuh sebagai admin — agency cukup sebagai advertiser atau partner.
Cara Set Ekspektasi yang Realistis
Sebelum tanda tangan, sepakati:
- Cara dan frekuensi laporan: Laporan mingguan atau bulanan? Format apa? Siapa yang akan mereview?
- Waktu respons: Berapa lama turnaround untuk approval creative? Ini penting agar campaign tidak tertahan.
- Kondisi untuk menghentikan kerjasama: Kapan evaluasi formal dilakukan dan apa kondisi yang menjadi deal-breaker?
BAIK Digital selalu mulai dengan alignment document yang menyepakati semua ini sebelum campaign pertama berjalan. Bukan karena birokrasi — tapi karena alignment di awal mencegah konflik di tengah jalan.
Kesimpulan: Brief yang Baik adalah Investasi Awal yang Worth It
Waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan brief yang komprehensif akan dihemat berkali-kali lipat selama kerjasama berjalan. Agency yang punya informasi lengkap bisa langsung bekerja dengan tepat sasaran — bukan buang 2–3 bulan untuk trial and error yang sebenarnya tidak perlu.
FAQ
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan brief yang baik? Kalau data sudah tersedia, 4–6 jam untuk mengumpulkan dan menyusun semuanya sudah cukup. Kalau data perlu digali dulu (misalnya export dari platform, kalkulasi margin), bisa butuh 1–2 hari. Investasi waktu ini sangat worth it dibandingkan risiko salah arah di bulan pertama.
Apakah brief harus dalam format dokumen formal? Tidak harus. Yang penting informasinya ada dan terorganisir. Google Doc yang rapi sudah cukup. Yang paling penting adalah semua poin penting tercakup, bukan seberapa formal formatnya.
Bagaimana kalau brand tidak punya data historis sama sekali? Mulai dari yang ada: data penjualan kasar, deskripsi customer yang sudah pernah beli, dan produk terlaris. Agency yang berpengalaman bisa mulai dari baseline yang minim dan build data dari sana. Yang penting, komunikasikan dengan jujur bahwa ini situasinya.
Siapa dari pihak brand yang idealnya hadir di kick-off meeting dengan agency? Idealnya decision maker (pemilik atau marketing manager) dan siapapun yang akan menjadi PIC komunikasi harian dengan agency. Keduanya perlu ada di kick-off agar ekspektasi selaras dari kedua level — strategis dan operasional.
Apakah brand perlu punya tim kreatif sendiri untuk bisa kerja dengan agency? Tidak wajib, tapi sangat membantu. Yang paling minimum: ada seseorang yang bisa approve creative dengan cepat (dalam 24 jam) dan bisa memberikan feedback yang spesifik. Kalau approval creative sering tertunda, campaign akan kehilangan momentum yang krusial.